Jadwal Otak Q-ta

Seorang teman pada awal tahun 2002 pernah meminjam salah satu buku bisnis saya. Dia mengatakan ingin belajar bisnis, karena kebetulan dia lulusan dari teknologi pangan. Seminggu kemudian ketika saya kerumahnya, buku tersebut masih `utuh’ belum tersentuh, terletak diatas meja dengan sedikit debu diatasnya. Dia mengatakan bahwa minggu ini dia sibuk sekali. Mungkin pada akhir pekan dia akan mulai membaca.

Setahun kemudian ketika saya kesana, ternyata debu diatas buku tersebut bertambah tebal. Dan teman saya masih belum mempunyai waktu untuk membaca karena kesibukannya. Saya akhirnya ambil kembali buku tersebut, karena saya memang sedang membutuhkan informasi di dalamnya.

Lalu, bagaimana dengan teman saya ? Saya katakan kepadanya, bahwa seumur hidup dia TIDAK AKAN PERNAH PUNYA WAKTU untuk membacanya. Benarkah ? Atau mungkin saya yang terlalu `pelit’ untuk meminjamkan lagi buku saya kepadanya.

Setiap orang sudah punya `jadwal tetap harian’ di dalam otaknya, mulai dari bangun pagi, gosok gigi, mandi, sarapan, menstarter mobil, ke kantor, bekerja, hingga tidur malam. Pada awal teman saya tadi meminjam buku, dia berusaha memasukkan `menu baru’ ke dalam `jadwal tetap’nya.
Menu baru itu akan tetap disitu jika kita melakukan aktivitas tersebut, namun jika tidak `peringkat’nya akan terus menurun. Setelah satu tahun, peringkat menu `baca buku’ itu pasti sudah terlempar dari 100 besar. Sangatlah sulit untuk mendongkrak kembali ke urutan 10 besar jika tidak ada alasan yang sangat kuat.

Berapa banyak dari kita yang berperilaku seperti itu ? Menunda hal-hal kecil seperti membaca buku, memotong rumput, membersihkan rumah, menata lemari pakaian, dll sampai akhirnya pekerjaan tersebut tertunda terus hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Seringkali juga pekerjaan tersebut akhirnya tidak jadi dilaksanakan. Ada tiga hal yang bisa mendorong kita untuk melakukan pekerjaan yang sering tertunda tersebut, yaitu Alasan, Prioritas dan Komitmen.

Alasan, Setiap orang jika menjumpai hal baru selalu timbul satu pertanyaan di benaknya “What’s in it for me ?” Apa manfaat hal baru tersebut untuk saya? Adakah manfaat tersebut membawa saya ke kehidupan yang lebih baik? Adakah manfaat tersebut membutuhkan kerja keras? Adakah manfaat tersebut dapat dinikmati dalam jangka panjang atau pendek?

Prioritas. Merupakan urutan yang anda letakkan bagi hal baru tersebut. Anda bisa menentukan prioritas hal baru tersebut dengan menanyakan ke diri sendiri beberapa pertanyaan berikut: Seberapa penting hal baru ini dibanding dengan hal yang sudah ada? Kalaupun lebih penting, haruskah saya kerjakan sekarang ? Dapatkah hal baru ini ditunda kapan-kapan? Masa iya saya harus menunda pergi ke mall karena harus harus baca buku?

Komitmen. Merupakan urutan terakhir yg harus dilakukan ketika kita ingin berubah. Komitmen berupa kedisiplinan Anda untuk bisa berubah harus dijaga agar kita lebih menghargai dan lebih banyak melakukan tindakan2 postitif.

Teknik Karet Gelang Merah

Teknik sederhana ini saya pelajari dari Robert G. Allen, milyuner dari New York dan pengarang buku best seller “Road to Wealth”. Allen mengatakan, bahwa dalam setiap tindakan kita, selalu ada pikiran positif dan negatif. Bahkan jika kita berdiam diri pun juga ada kedua pikiran tersebut, misalnya pikiran positif akan berkata “Ayo,kita mulai bekerja”. Sedangkan pikiran negatif berkata “Ah, nanti saja. Sedang enak nih duduk-2nya”. Kedua pikiran ini sama kekuatannya. Jadi terkadang positif yang menang, saat lain negatif yang menang. Lalu, jika memang kekuatannya 50 : 50, bagaimana caranya agar positif bisa lebih dominan?

Jika memang kekuatannya sama, maka harus ada perangsang dari luar yang bisa mencegah, ketika pikiran negatif keluar. Allen menggunakan karet gelang merah di pergelangan tangan kirinya. Setiap saat ada pikiran negatif sekecil apapun yang melintas di pikirannya, dia langsung menjepret tangannya dengan karet gelang tersebut. Sepintas memang tampak lucu. Tapi pengaruhnya ke alam bawah sadar (ABS) anda luar biasa besar. Apabila anda konsisten dengan menjepretkan karet gelang setiap kali anda berpikir negatif, maka ABS anda akan merekamnya menjadi suatu kebiasaan yang harus dihindari.

Saya sendiri telah menggunakannya selama 2 bulan. Pada awalnya memang tangan kiri saya banyak garis-2 merah karena sering dijepret. Namun semakin lama semakin berkurang. Saya juga memvariasikan teknik ini, dengan memberitahukan rekan-2 sekitar saya, tentang apa yang saya lakukan. Sehingga mungkin suatu saat ketika anda sedang tidak sadar berbicara negatif, dan teman anda mengetahuinya, dia bisa mengingatkan anda dengan menjepretkan karet di tangan anda.

Ada satu pertanyaan yang mengelitik, yaitu mengapa mesti karet yang berwarna merah. Bukankah karet gelang ada beragam warna? Atau mungkin juga pertanyaan mengapa mesti ditangan kiri, bukan di kanan, atau di kaki ?

Robert G. Allen mengatakan, hal-2 ini kelihatannya remeh, tapi mengandung makna yang besar. Banyak orang yang mengatakan ingin berubah menjadi lebih baik. Tapi begitu diberikan satu petunjuk, biasanya petunjuk ini lalu DITAWAR. Ini masalah komitmen.
Apabila anda mau BERUSAHA mencari karet yang berwarna merah, dan memasangnya di tangan kiri, itu sudah membuktikan anda mempunyai komitmen yang tinggi untuk berubah. Apabila untuk hal kecil ini saja sudah anda tawar, mungkin komitmen anda untuk berubah baru di tahap coba-coba saja.

Hal lain yang sering menjadi pertanyaan disini adalah, sebenarnya apakah yang disebut pikiran negatif itu ? Karena banyak orang tidak sadar bahwa dia melakukan atau memikirkan hal negatif. Nah, dibawah ini ada daftar hal negatif yang harus anda `jepret’ ketika anda mengalaminya.

Menunda, malas, marah, lesu, curiga, malu, ragu-2, rendah diri, sombong, egois, minder, kuatir, berkata-kata kotor, cemburu, patah hati, takut, berpikir jorok, dengki, iri, sirik, dendam, sinis, cemberut, pesimis, takut gagal, resah, takut memulai, cuek, acuh, pasif, cemas, terlambat, menipu, merajuk, murka, fitnah, menang sendiri, bergosip ria, merasa tak pernah salah, berbohong, berprasangka buruk, meremehkan, sedih, dan lain sebagainya. Anda bisa tambahkan disini tindakan-2 anda sendiri yang menurut anda negatif, dan perlu `dijepret’.

Selamat mencoba !

Sumber: Sonny V. Sutedjo

Menzikirkan Mata Hati

Oleh : M Arifin Ilham

Ada lima yang menutupi mata hati manusia. Kelima hal itu dilakukan manusia dalam kesadaran penuh, hanya saja manusia tidak mampu menghindar darinya bahkan melakukannya secara kolektif. Kecuali, bagi manusia yang telah mendidik jiwanya dengan sifat dan sikap ikhlas.

Pertama, manusia menjadi tertutup mata hatinya lantaran selalu memperturutkan hawa nafsu. Hawa nafsu telah mendorong untuk melakukan semua yang dilarang Allah. “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya mereka menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka, apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.” (QS al-’Aadiyaat: 6-10). Dalam kondisi batin manusia seperti ini penting kiranya diobati dengan senantiasa
beristigfar, berzikir kepada Allah.

Kedua, cinta dunia dan takut mati. Ujian bagi kaum Muslimin mengenai hal ini tergambar dalam surat Ali-Imran: 142. Pada waktu itu pasukan pemanah yang telah ditempatkan Nabi di atas bukit tergoda hatinya oleh harta dunia yang berserakan di bawah sehingga mereka meninggalkan tugas dari Nabi. Mereka akhirnya luluh-lantah. Saat ini fragmen serupa tapi tak sama senantiasa berulang dan terjadi menerpa manusia. Sebetulnya dengan terus-menerus melakukan zikir, maka manusia akan sampai pada pola hidup zuhud; suatu sikap yang menganggap bahwa dunia harus dikuasai bukan dunia yang menguasai manusia. Seorang
yang zuhud tak lagi berambisi terhadap dunia, tidak cinta dunia, dan tak takut mati.

Ketiga, setan. Manusia yang dikuasai setan pandai sekali menghiasi perbuatan buruk dengan menjadi (seolah-olah) baik. Ia hipokrit tulen. Tabiat setan ini bisa diredam dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Keempat, tabiat buruk. Ini merupakan suatu perbuatan yang memang sudah menjadi tabiat (kebiasaan) dan telah mentradisi dalam individu maupun masyarakat. Untuk meruntuhkan tabiat buruk tersebut, lagi-lagi dibutuhkan zikir yang banyak kepada Allah. Kelak zikir akan menukar tabiat buruk menjadi tabiat baik.

Kelima, dosa. Manusia diperintahkan untuk beristighfar, memohon ampun kepada Allah (QS Nuh: 10-12). Dosa kita selama ini telah menghalangi turunnya musim yang teratur, rezeki yang merata, anak-anak yang saleh, dan kesejukan dan keharmonisan hidup antarsesama. Ampunan dan pertolongan Allah pasti akan
datang jika kita memintanya (QS Al-Baqarah: 186). Karena itu, marilah kita bersama-sama memohon ampun kepada Allah ihwal perbuatan khilaf dan dosa yang selama ini kita lakukan. Mudah-mudahan Allah menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan berkepanjangan dan kenistaan tak bertepi. Pun Allah buka mata
hati kita hingga mampu menangkap realitas absolut dan gerak-Nya. Amin

sumber: Unknown

5 Ekor Monyet


Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?

Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.

Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah,para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?” protes keduanya”.

Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.

Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas ….. Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik.
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang diinginkannya.

Jika kita lihat contoh di atas, sebenarnya lebih menggambarkan diri kita dalam berbisnis. Pertanyaannya monyet manakah yang lebih menggambarkan diri kita? Apakah monyet A dan B yang mencoba gagal dan menyerah serta menularkan kegagalan tersebut pada orang lain? atau mungkin monyet C dan D yang mudah terpengaruh dengan cerita orang dan percaya tanpa pernah mencoba? atau mungkin monyet E yang tidak mudah percaya dan lebih terpancing untuk melakukan usaha tanpa terpancing omongan orang?

Kadang ketika seorang teman kita masuk dalam suatu bidang bisnis tertentu dan mengalami kegagalan ‘kesialan’ kemudian menceritakan pengalamannya serta menyarankan kepada kita untuk tidak masuk ke dalam bisnis yang sama karena akan mengalami kesialan yg sama. Karena terpengaruh cerita tersebut, kadang kala kita merasa bahwa jika kita melakukan hal yang sama maka kita akan mengalami kesialan yang sama pula. Padahal belum tentu terjadi hal serupa, berbagai faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan seseorang, termasuk faktor terpenting, semangat dan kepercayaan diri untuk terus mencoba tanpa takut gagal itu yang utama.

Jika hanya karena omongan orang saja, tanpa pernah mencobanya kemudian kita sudah mundur? Apakah kita akan menyerah begitu saja?

Better die trying that life being nothing

sumber: unknow, dari kompi temen sih.. hihi..:p

    Dunia Memang Aneh

    Assallamu’alaikum Wr Wb

    “Dunia memang aneh”, Gumam Pak Ustadz
    “Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini.
    “Tidakkah antum perhatikan disekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”
    “Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

    Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.

    Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya.
    “Aduh, tumben nih rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih? Tanya ibu muda itu.

    Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya.

    Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan memang semestinya seperti itu ditumbenin? Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja? Kenapa orang kemasjid dianggap aneh? Orang yang pergi kemasjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron “intan”. Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol dipinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

    Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.
    Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum, Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain disekitarmu” , kata Pak Ustadz.

    “Keanehan-keanehan” disekitar kita?

    Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak “aneh” ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan ngobrol.

    Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

    Cobalah berdzikir atau tadabur al qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?

    Cobalah hari ini shalat jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang selesai.

    Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh ditengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test..test, test saja.

    Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits,atau ayat al qur’an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

    Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.

    Jangan takut “ditumbenin” ketika kita pergi kemasjid, dengan pakaian rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur’an (Al-A’raf:31)

    Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.

    Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

    “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman “. (An-nisaa:103)

    Jangan takut untuk shalat jum’at/shalat berjama’ah berada dishaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. ….,Karena dishaf terdepan itu ada kemuliaan sehingga dijaman Nabi Salallahu’alaihi wassalam para sahabat bisa bertenggkar cuma gara-gara memperebutkan berada dishaf depan.

    “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui “. (Al Jumu’ah:9)

    Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

    “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

    Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali menyerukan, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk ladang amal kita….

    Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat, aneh nggak sih?

    Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat” (Potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar)

    Jangan takut baca tulisan dari siapapun, selama tulisan itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca tulisan dari orang-orang terkenal, sebuah tulisan dari manajer atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau tulisan yang isinya asal posting saja. Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

    Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar. Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

    Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

    Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelamatkan kita.

    Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar.,

    “Silahkan sebarkan tulisan ini, tidak ada embel-embel apapun melainkan “DAKWAH” mengharap Ridho Allah SWT.

    Wassalam

    sumber: abdullah alkatiri at (abdullahalkatiri@ yahoo.com)

    DIALAH MAHA PENJAMIN RIZKI

    Sungguh ALLOH adalah Dzat yang Mahasempurna segala-galanya. Sangat pasti tiada celah kekurangan pada Dzat ALLOH walau barang sedikitpun jua. Dia-lah yang Mahapeka terhadap segala kebutuhan, lintasan hati, harapan, dan keinginan hamba-hambanya. Samasekali tidak ada yang luput dalam perhitungan ALLOH, semuanya pasti dengan Mahacermat ALLOH mengetahui-Nya. Dan hanya Dia-lah ALLOH, satu-satunya Dzat yang kuasa memenuhi segala harapan, menyempurnakan segala nikmat, menghapuskan seluruh dosa, dan menyembunyikan setiap aib.

    ALLOH-lah satu-satunya Dzat yang menciptakan lambung, dan ALLOH amat sangat tahu kebutuhan lambung kita. Kapan dibuat lapar, yang berarti kita membutuhkan rizki berupa makanan. Dia-lah ALLOH yang menciptakan rasa lelah sehingga kita harus istirahat, yang berarti kita membutuhkan rizki berupa kantuk, subhanallah. Dia-lah ALLOH yang menciptakan tubuh kita mengeluarkan keringat dan bau-bauan sehingga tidak segar kalau tidak mandi. Ini berarti kita membutuhkan rizki bernama air untuk mandi. Rasanya kalau kita tidak berkeringat dan bersih terus, kita tidak akan butuh air untuk mandi.

    Dia-lah ALLOH yang menciptakan suhu yang dingin sehingga kita butuh rizki berupa baju penghangat. Dia-lah ALLOH yang menciptakan hujan deras dan teriknya matahari sehingga kita membutuhkan rizki berupa rumah untuk berteduh, aman dari terpaan panas, aman dari cengkraman dingin.

    ALLOH ternyata yang membuat segala kebutuhan kita, dan ALLOH-lah satu-satunya yang mampu mencukupi kebutuhan kita, karena Dia-lah yang tahu persis kebutuhan kita. Dia-lah ALLOH pencipta segala jalan sebab sampainya rizki kepada kita. Sedangkan rizki yang lebih mahal dari semua itu adalah rizki berupa makanan untuk ruhani kita. Tidak cukup kita punya sandang, pangan, dan papan kalau hati kita tidak tentram. Tidak cukup kita punya rumah mewah kalau hati ini tidak tenang. Kita butuh rizki untuk makanan kalbu kita. Kita butuh karunia ALLOH yang membuat kita bisa menikmati episode apapun yang terjadi dalam hidup ini. Kita butuh hidayah, petunjuk jalan, agar jelas kemana tujuan hidup ini.

    Jangan-jangan kita melangkah tiap hari, tapi tidak tahu tujuan hidup kita. Lucu! Kita hidup lama, tapi kita tidak mengerti kemana arah tujuan hidup ini. Maka, kita butuh furqan (pembeda) yang hak dan yang batil. Kita butuh taufik yang membuat kita bersemangat dalam beribadah, yang membuat kita ikhlas dalam beramal. Kita butuh hikmah sehingga tersingkap rahasia dibalik setiap kejadian yang ada. Kita butuh ketentraman dari hiruk-pikuk, dari terjadi atau tidak terjadi, atau dari ada dan tiada. Kita butuh rizki untuk memahami aneka kejadian yang terjadi.

    Kita butuh rizki yang bernama mantapnya keyakinan kepada ALLOH, supaya kita sadar bahwa semua ini bukan milik kita, tapi milik ALLOH. Sungguh, kita butuh rizki berupa keyakinan, karena kalau kia sudah merasa dunia ini milik kita, kita akan takut kehilangan. Kalau kita merasa dunia ini milik seseorang, kita jadi takut tidak kebagian. Kita butuh keyakinan bahwa segalanya milik ALLOH.

    Semua ini lebih tinggi dari rizki lahiriah. Sebab, apa artinya makanan enak kalau hati enek. Apa artinya punya rumah luas tapi hatinya sempit. Apa artinya dikasih uang banyak tapi kalbunya miskin. Apa artinya diberi penampilan indah tapi hatinya busuk. Namun tetap, kita membutuhkan kedua-duanya.
    Lalu, siapa sekarang yang mampu memenuhi semua kebutuhan kita ini, selain ALLOH?!

    Anehnya, saat kondisi bangsa seperti ini, orang lebih sibuk untuk pelit daripada bersedekah. Padahal, sungguh ALLOH akan membagikan rizki kepada siapa saja yang dia kehendaki, tanpa batas. Artinya, kalau kita butuh rizki, mintalah kepada ALLOH.

    Lihatlah bayi, ketika rasa lapar menghampirinya, ia menangis, dan dapatlah ia rizkinya, berupa ASI. Lain lagi, ketika beranjak besar dan menjadi anak-anak, “Mamah lapar…!”. “Ambil sendiri!” Kata Ibunya. “Lho kok sekarang enggak mempan lagi dengan rengekan, apalagi dengan tangisan seperti dulu?!”. Kenapa? Sebab ALLOH sudah memberinya ilmu, memberi umur, memberi kekuatan, dan memberi pengalaman supaya dia ketemu dengan jatah rizkinya. Yang pasti, semua makhluk yang ALLOH ciptakan sudah lengkap rizkinya.

    Ah, Sahabat. Lihat saja rizki seekor anak burung elang. Ibunya pagi-pagi sudah terbang mencari makanan untuk dia dan anak-anaknya. Dengan ketajaman sorot matanya, sebentar saja terbang, sekelebat kemudian menukik menyergap seekor ulat di dahan pohon, dan kemudian ia kembali terbang menuju sarang, menemui anaknya yang memang belum bisa terbang. Maka bertemulah si anak elang ini dengan rizkinya berupa seekor ulat. Atau kita lihat rizki semut, silahkan sembunyikan sepotong kue di dalam laci yang tidak diketahui oleh ayah, ibu, dan juga adik, dikunci pula lacinya. Jangan kaget kalau semut tahu, kenapa? Karena ALLOH-lah yang memberi tahu, melalui syaraf penciumannya yang memang begitu tajam.

    Dikisahkan pada suatu ketika ada seorang ulama yang ingin membuktikan, benar tidak sih ALLOH itu Maha Penjamin Rizki, Maha Mencukupi segala kebutuhan. “Ya ALLOH bukan diri ini tidak yakin kepada-Mu, tapi ya ALLOH saya ingin tahu bagaimana Engkau menjamin rizki hamba-hamba-Nya. Saya yakin kepadamu, tapi kalau Engkau tunjukkan jaminan-Mu, saya akan lebih yakin lagi kepada-Mu. Sungguh saya tidak niat meragukan-Mu. Saya mau pergi ke hutan, dan saya ingin membuktikan apakah Engkau masih menjamin rizki saya di belantara hutan sana”. Demikian gumamnya dalam hati.

    Dia pun pergi menyusuri lebatnya belantara hutan, setelah beberapa jam, sampailah ia di tengah hutan yang jauh kesana-kemari, perutnya mulai terasa lapar dan bibirnya pun sudah mulai terasa kering, tapi masih dapat ia tahan. Tidak dinyana, jauh di kerimbunan pohon dan semak-semak, terlihat ada sekelompok pendaki gunung yang kalau tidak menghindar pasti akan berpapasan perjalanan dengannya.
    Segera bersembunyilah ia ke semak-semak. Baru saja masuk ke semak-semak, hujan turun dengan level derasnya sehingga memaksa ia masuk lari ke gua yang ada tepat di bawah tebing di samping tempat persembunyiannya. Larilah si ulama ini ke sana. Ternyata para pendakipun berlari mencari perlindungannya ke gua yang sama.

    “Wah, gawat nih, kalau begini harus pura-pura pingsan” Bisik si ulama. Pura-pura pingsanlah si ulama itu. “Wah ada orang pingsan, nih.” Para pendaki yang menemukan si ulama yang sedang pingsan di gua sangat kaget, dengan sigap mereka siap-siap memberikan pertolongan. “Jangan-jangan dia kelaparan, coba periksa mulut dan perutnya”. “Kalau begitu, mulut saya mau saya tutup” Bisik si ulama dalam hati. Maka, dengan sekuat tenaga si ulama ini pun berusaha mengatupkan mulutnya.

    “Iya nih, mulutnya sampai susah dibuka, mari kita coba buka paksa. Siapkan air dan makanan untuknya” Kata para pendaki itu. Maka, dipaksalah si ulama itu untuk bisa minum beberapa teguk air dan mengunyah beberapa potong roti, allahuakbar. Sungguh terlalu bodoh kalau kita ini tidak yakin dengan jaminan ALLOH.

    Nah, Sahabat. Adapun jikalau ingin terjamin rizki, ALLOH telah menjanjikannya.”Wamayawakkal allah fahua hasbu”. [Q.S. At-halaq (65):3]. Dan barangsiapa yang hatinya bulat, tanpa celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun. Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada ALLOH, bakal dicukupi segala kebutuhannya, subhanallah. Karenanya beruntunglah bagi siapapun yang bersungguh-sungguh tujuan hidupnya hanya kepada ALLOH, karena selain ALLOH terlalu kecil untuk menjadi cita-cita, terlalu kecil untuk menjadi tujuan. Hanya ALLOH-lah tujuan dari segalanya. Hanya ALLOH-lah penjamin rizki setiap hamba-Nya.

    oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

    Alat Ukur Keuntungan

    null

    Ciri kapitalis itu dua.
    Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.
    Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

    Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim.
    Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

    Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya. Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

    Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

    Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.

    Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima.
    Pertama, yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain, meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan keuntungan.

    Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.

    Kedua, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang, pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.

    Ketiga,
    yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman, dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.

    Keempat,
    yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan pernah hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain menjadi hancur.Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.

    Kelima, yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.
    Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi dengan Allah, penggenggam setiap rezeki. Waspadalah terhadap bisnis yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana.

    Penulis:
    KH Abdullah Gymnastiar

    Berbisnis ala Rasulullah SAW

    Hal yang sangat patut direnungkan oleh umat Islam, dan ini menjadi kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan) dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas, dengan dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal, dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan umat.

    Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri
    dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah
    SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal
    adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW
    sebelum menjadi nabi.

    Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship
    Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau
    berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur,
    dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah,
    sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.

    Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah
    proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi
    beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak
    tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa
    ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya
    hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.

    Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan
    perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa
    di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan
    darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya
    bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus
    diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.

    Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan
    pribadi,yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada
    orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota
    Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah
    melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan
    Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai
    harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah.

    Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh
    Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena
    kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak
    ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat
    kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan
    pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan
    akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.

    Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri,
    ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah
    yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut
    baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang
    mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil
    Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh
    percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang
    apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah
    memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).

    Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi
    istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem
    bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah
    dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis
    bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan
    Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke
    pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali
    memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.

    Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah
    dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai
    harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi
    bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas
    perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua
    itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari
    setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru
    semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan
    ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal.

    Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha
    sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu
    apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak
    awal.Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir
    kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat
    amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih
    sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu
    tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau
    kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.

    Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan
    transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi,
    tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya
    dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk
    didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu
    membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan
    bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian
    junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari
    nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

    Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam. (Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.2/Juni 2001)

    CARA KAYA 2: Wealth Ratio Bigger Than One

    INDIKATOR KAYA ADALAH WEALTH RATIO LEBIH BESAR DARIPADA 1

    Dulu waktu saya masih kecil, yang disebut orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang jutaan. Karena itu ada sebutan ‘jutawan’. Sekarang gaji di atas sejuta sudah umum, bahkan sudah dirasakan kurang memadai. Sekarang orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang milyaran, atau disebut milyuner. Apakah nanti milyuner tak lagi disebut kaya?

    Mengukur kekayaan dari sesuatu yang fisik tak lagi menjadi ukuran yang tepat. Mobil bagus? Bisa kredit. Rumah bagus? Kredit juga. Kartu kredit? Mahasiswa juga punya. Ponsel? Anak SD pun sekarang punya. Golf? Dibayarin temen. Jadi apa dong ukuran kaya yang lebih tepat?

    Setelah lama mencarinya maka saat ini saya paling setuju dengan rumusan Robert Kiyosaki. Rumusan itu disebut Wealth Ratio (WR), yang dia tulis di buku Retire Young Retire Rich. Rumusannya sederhana seperti ini:

    Menurut rumusan tersebut, seseorang baru dapat disebut kaya setelah WR >= 1. Apa maksudnya?

    Mari kita bahas secara singkat apa itu Penghasilan Pasif. Penghasilan Pasif (Passive Income) adalah penghasilan yang didapat dengan keterlibatan yang sangat-sangat minimal. Misalnya, seorang penulis mendapatkan royalti dari penjualan bukunya. Sebelumnya saat dia menulis buku maka dia bekerja dengan keras, dengan keterlibatan maksimal. Namun setelah buku tersebut terbit dan laku, maka selama 70 tahun (masa copyright buku) selanjutnya dia berhak menerima royalti tanpa harus bekerja lagi. Contoh lainnya adalah seseorang yang menyewakan kamar kos ke mahasiswa. Setiap bulan (atau tahun) dia mendapat uang sewa tanpa dia mengeluarkan tenaga lagi. Inilah contoh penghasilan pasif. Pada dasarnya semua pendapatan yang diperoleh tanpa kerja langsung dapat disebut pendapatan pasif, seperti misalnya bunga deposito, penghasilan multi-level-marketing dari aktivitas downline, uang pensiun, deviden saham, royalti lagu, pendapatan franchise, dan sebagainya.

    Dengan demikian bila seseorang mempunyai Penghasilan Pasif setara dengan Pengeluaran, maka secara definitif dia tidak perlu lagi bekerja. Setiap bulan dia dapat mencukupi kebutuhannya tanpa bekerja. Inilah yang disebut kaya, layaknya raja-raja jaman dahulu yang tidak perlu bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Mari kita ilustrasikan konsep tersebut dengan contoh Toni dan Joni. Toni berpenghasilan 1 milyar sebulan, sedangkan Joni hanya 5 juta sebulan. Siapa lebih kaya? Kita lihat dulu pengeluarannya. Pengeluaran Toni ternyata 1 milyar 50 ribu rupiah tiap bulan. Ini berarti Toni tekor (minus) 50 ribu setiap bulan. Jelas dia sebenarnya bangkrut. Sebaliknya Joni hanya perlu pengeluaran 4,5 juta sebulan, karena gaya hidup yang sederhana. maka setiap bulan dia masih bisa menabung 500 ribu. Joni lebih kaya dibanding Toni?

    Joni sesungguhnya belum kaya. Joni baru ‘berpotensi’ kaya. Mengapa? Mari kita bandingkan Joni dengan Roni. Penghasilan Joni sebagai karyawan perusahaan besar adalah 5 juta sebulan, sedangkan penghasilan Roni yang didapat dari kontrakan kamar untuk para buruh hanyalah 2 juta sebulan. Roni pengangguran, dan kamar-kamar kontrakan itu merupakan warisan dari orang tuanya. Pengeluaran Roni hanya 2 juta sebulan. Siapa lebih kaya?

    Jawab: Roni. Mengapa? Karena penghasilan Roni adalah penghasilan pasif (tanpa kerja langsung) sedangkan penghasilan Joni adalah aktif (dengan kerja langsung). Jadi Toni dan Joni berpenghasilan aktif, sedangkan Roni berpenghasilan pasif. Di antara mereka bertiga Roni si pengangguranlah yang paling kaya. Mari kita analisis dengan rumus Rasio Kekayaan (Wealth ratio / WR)

    Toni

    Penghasilan : 1.000.000.000

    Pengeluaran : 1.000.050.000

    Saldo : - 50.000

    Potensi makin kaya : negatif karena tekor setiap bulan

    Penghasilan pasif : 0

    WR Toni = 0/1.000.050.000 = 0

    Joni

    Penghasilan : 5.000.000

    Pengeluaran : 4.500.000

    Saldo : + 500.000

    Potensi makin kaya : Positif karena bisa nabung setiap Bulan

    Penghasilan pasif : 0

    WR Joni = 0/4.500.000 = 0

    Roni

    Penghasilan : 2.000.000

    Pengeluaran : 2.000.000

    Saldo : 0

    Potensi makin kaya : nol karena tidak ada saldo

    Penghasilan pasif : 2.000.000

    WR Roni = 2.000.000/2.000.000 = 1

    Dapat kita lihat bahwa nilai penghasilan yang besar tidak akan menolong seseorang selama pengeluarannya tidak terkendali. Ketika seseorang mampu menabung maka dia berpotensi menjadi kaya. Namun semua itu belum menjadi penting hingga tabungan tersebut berhasil diubah menjadi penghasilan pasif (passive income).

    Dengan demikian Roni sudah kaya, namun potensi lebih kaya tidak ada karena tidak punya saldo. Walau begitu penghasilan pasif tidak harus menggunakan modal tabungan, ada yang bisa diciptakan sendiri misalnya membuat lagu dan mendapat royalti. Kondisi Roni dapat berubah ketika pengeluaran bulanan dia meningkat (karena menikah, punya anak, sakit, dsb). Bila pengeluaran menjadi lebih tinggi dari penghasilan pasif maka otomatis Roni berubah status dari kaya (WR >= 1) menjadi miskin (WR < 1).

    Joni saat ini belum kaya (WR = 0), namun bila Joni mampu mengubah modal tabungannya menjadi penghasilan pasif, maka dia bisa menjadi kaya. Apabila tabungan yang Joni kumpulkan ternyata gagal diubah ke penghasilan pasif (misalnya kemudian habis hanya untuk membeli barang konsumsi), maka Joni kembali tidak berpeluang kaya.

    Jadi ukuran kaya adalah WR seseorang. Kekayaan seseorang terus berubah (naik-turun) bergantung kedisiplinan dia dalam mengusahakan Penghasilan pasif dan mengelola Pengeluaran. Ukuran WR ini sangat penting dalam proses menuju kaya, karena dengan terus memantau ukuran ini kita punya panduan yang jelas untuk bertindak. Saya sendiri mendapat banyak manfaat dengan panduan WR ini. Suatu saat WR saya mencapai 0,4 lalu di saat lain karena kesalahan investasi (baca: pembelajaran, he..he..) kembali turun menjadi 0,15 (ngomong-ngomong, bagaimana WR Anda, masih nol ?). Jelas saya belum kaya, tapi saya yakin -selalu optimis- bahwa menjadi kaya itu sangat realistis dan dapat dilakukan oleh semua orang, tak peduli terlahir kaya atau miskin. Sejarah sudah membuktikan hal itu.

    CARA KAYA 1: Kuda dan Penunggang

    Cara menjadi kaya yang pertama adalah menerima kebenaran. Terkadang kebenaran sungguh menyakitkan. Terima saja. Bukan kebenaran yang perlu kita ubah (apalagi dihindari), namun kita yang harus bersikap cerdik dan mengambil tanggung jawab.

    Setelah mencermati buku Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki yang terkenal itu, ada satu bagian filososfis yang menarik untuk diingat. Saya membuat gambar kartun tentang hal ini dan memasangnya di dinding ruang kerja agar selalu ingat. Kartun itu bergambar orang naik kuda (tepatnya naik seekor keledai), orang tersebut membawa tongkat yang di ujungnya ditalikan sebuah wortel, lalu diayun-ayunkan di depan kuda. Dengan demikian kuda akan berjalan maju berusaha meraih wortel, dan penunggang dapat mengarahkannya kemana dia ingin pergi.

    Apa beda kuda dengan penunggang? Setelah waktu terus berjalan, penunggang akan sampai di tempat tujuan, sedangkan kuda hanya akan mendapat…wortel. Ini gambaran yang sangat sarkastis, tapi begitulah kebenaran memang sering menyakitkan. Terima saja.

    Apa maksud gambar tersebut. Bila Anda seorang karyawan, maka setelah Anda bekerja sangat keras, di akhir bulan pemilik perusahaan akan mendapati sistem usahanya menjadi semakin bagus, dan mungkin laba makin naik. Karyawan hanya mendapat gaji. Setelah 20 tahun berjalan, pemilik (penunggang) akan mendapatkan perusahaan (sistem bisnis) dan kemudian pensiun dengan tenang, sementara karyawan (kuda) akan mendapat wortel sedikit lebih banyak (naik gaji), yang mungkin sudah dia habiskan di sepanjang jalan. Pemilik mendapatkan akumulasi dari usahanya (sampai di tempat tujuan), karyawan tidak mendapatkan akumulasi dari usahanya (hanya dapat wortel).

    Pedih? Ya. Terima saja. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi dan bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Jangan salahkan penunggang Anda, karena dia sebenarnya juga adalah ‘kuda’ dari sistem yang lebih besar lagi! Kita semua ini adalah “kuda di atas kuda, penunggang di bawah penunggang”. Artinya secara bertingkat kita adalah kuda dari sistem yang lebih besar sekaligus penunggang dari sistem yang lebih kecil. Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan diri sendiri kalau masih terus menerima menjadi kuda.

    Tunggu sebentar, penunggang dan kuda belum tentu berwujud manusia. Penunggang pada tingkat makro salah satunya adalah ‘negara’. Negara menunggangi rakyatnya dengan mengambil pajak. Namun negara pun hanyalah kuda bagi para penunggang sesungguhnya yaitu para elite. Sebaliknya pada tingkat mikro ada kuda berbentuk mesin-mesin, rumah sewa, lahan kebun, air sumber listrik, dan sumber daya alam. Di setiap tingkatan ada penunggang dan kuda.

    Mari bersedih, terima kebenaran bahwa kita ini kuda, lalu mari kita ambil tanggung jawab. Jadi, setelah kita sadar bahwa kita ini hanyalah kuda yang diperkuda, maka yang sebaiknya dilakukan adalah: mengambil wortel, memakannya hanya sebagian, lalu menggunakan sisanya untuk mengendalikan kuda lain. Artinya, di saat lain, si kuda berubah menjadi penunggang!

    Ini berarti setelah Anda lelah bekerja sebulan penuh, sudah saatnya memikirkan kemana sebagian uang (wortel) gaji Anda akan diinvestasikan. Anda bisa gunakan uang itu untuk mempekerjakan orang lain, atau mempekerjakan mesin yang mengantar Anda menuju tujuan. Mereka yang hanya memakan habis gajinya ibarat kuda yang memakan habis jatah wortelnya. Bila terus demikian maka dia akan menjadi kuda seumur hidupnya! Inilah pola konsumtif yang dilakukan sebagian besar orang. Gajinya hanya habis untuk kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Di usia senja, baru dia sadar bahwa dia tidak memiliki apapun. Sangat tragis.

    Miskin saat muda hanyalah ketidaknyamanan.
    Miskin saat tua adalah tragedi.
    Coba sekarang Anda renungkan, apakah Anda masih sekedar kuda, atau sudah mulai menjadi penunggang? Atau lebih tragis lagi -celetuk Intan, rekan saya- hanya menjadi wortelnya?