<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AkudanKalian-My Life &#187; Enterpreneur</title>
	<atom:link href="http://akudankalian.wordpress.com/tag/enterpreneur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akudankalian.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2009 19:00:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='akudankalian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/10a96fcecd3ca21a75642fafcaa3a685?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>AkudanKalian-My Life &#187; Enterpreneur</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akudankalian.wordpress.com/osd.xml" title="AkudanKalian-My Life" />
		<item>
		<title>Alat Ukur Keuntungan</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/alat-ukur-keuntungan/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/alat-ukur-keuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 16:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[
Ciri kapitalis itu dua.
Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.
Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.
Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim.
Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=44&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/Comingsoon.jpg" alt="null" /></p>
<p>Ciri kapitalis itu dua.<br />
<em><strong>Pertama,</strong></em> dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya.<br />
<em><strong>Kedua,</strong></em> setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.</p>
<p>Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim.<br />
<em><strong>Pertama,</strong></em> ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.</p>
<p><em><strong>Kedua,</strong></em> setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya. Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.</p>
<p>Firman Allah, &#8220;Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.&#8221; (QS Al Jumu&#8217;ah [62]: 10).</p>
<p>Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.</p>
<p>Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima.<br />
<strong>Pertama, </strong>yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain, meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan keuntungan.</p>
<p>Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang, pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.<br />
<strong><br />
Ketiga, </strong> yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman, dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.<br />
<strong><br />
Keempat, </strong>yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan pernah hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain menjadi hancur.Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.</p>
<p><strong>Kelima, </strong>yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.<br />
Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi dengan Allah, penggenggam setiap rezeki. Waspadalah terhadap bisnis yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana.<br />
<em><strong><br />
Penulis:</strong></em><strong> KH Abdullah Gymnastiar</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=44&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/alat-ukur-keuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/Comingsoon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">null</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbisnis ala Rasulullah SAW</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/berbisnis-ala-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/berbisnis-ala-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 16:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Saw.]]></category>
		<category><![CDATA[Social Network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Hal yang sangat patut direnungkan oleh umat Islam, dan ini menjadi kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan) dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas, dengan dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal, dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan umat.
Kelemahan leadership dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=43&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hal yang sangat patut direnungkan oleh umat Islam, dan ini menjadi kendala bagi kemajuan umat adalah faktor leadership (kepemimpinan) dan kemampuan manajemen. Dampaknya pun jelas, dengan dua titik lemah ini potensi yang banyak tidak terbaca, tidak tergali secara maksimal, dan tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah sinergi yang memiliki dampak besar bagi kemajuan umat.</p>
<p>Kelemahan leadership dan manajerial ini ternyata dapat kita telusuri<br />
dengan mengamati bagaimana pemahaman umat tentang sifat Rasulullah<br />
SAW. Diantara titik-titik yang kurang tersentuh secara maksimal<br />
adalah bagaimana umat Islam mempelajari masa muda Rasulullah SAW<br />
sebelum menjadi nabi.</p>
<p>Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship<br />
Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau<br />
berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur,<br />
dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah,<br />
sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.</p>
<p>Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah<br />
proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi<br />
beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak<br />
tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa<br />
ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya<br />
hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini.</p>
<p>Pada usia 12 tahuan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan<br />
perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa<br />
di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan<br />
darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya<br />
bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus<br />
diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah.</p>
<p>Bisnisnya diawalai dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan<br />
pribadi,yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada<br />
orang lain. Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota<br />
Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah<br />
melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan<br />
Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai<br />
harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah.</p>
<p>Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh<br />
Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena<br />
kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak<br />
ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat<br />
kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan<br />
pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan<br />
akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya.</p>
<p>Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri,<br />
ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah<br />
yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut<br />
baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang<br />
mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil<br />
Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh<br />
percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang<br />
apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah<br />
memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).</p>
<p>Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi<br />
istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem<br />
bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah<br />
dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis<br />
bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan<br />
Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke<br />
pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali<br />
memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.</p>
<p>Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah<br />
dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai<br />
harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi<br />
bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas<br />
perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua<br />
itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari<br />
setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru<br />
semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan<br />
ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal.</p>
<p>Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha<br />
sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu<br />
apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak<br />
awal.Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir<br />
kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat<br />
amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih<br />
sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu<br />
tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau<br />
kesuksesan mengemban amanah jenis apapun.</p>
<p>Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan<br />
transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi,<br />
tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya<br />
dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk<br />
didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu<br />
membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan<br />
bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian<br />
junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari<br />
nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.</p>
<p>Semoga kita semua mampu merenungi kejujuran diri, amanah, dan kegigihan dalam menjaga kehormatan harga diri kita selaku umat Islam. (Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.2/Juni 2001)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=43&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/06/14/berbisnis-ala-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA EVALUASI KEUANGAN</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 18:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, tiba juga kita di tahun 2008. Tahun yang penuh dengan tantangan dan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Nah, di awal tahun 2008 ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak menoleh ke belakang. Tujuannya untuk mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan pada keuangan Anda di tahun 2007 lalu.
Tidak perlu waktu lama untuk melakukan evaluasi. Tapi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=9&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhirnya, tiba juga kita di tahun 2008. Tahun yang penuh dengan tantangan dan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Nah, di awal tahun 2008 ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak menoleh ke belakang. Tujuannya untuk mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan pada keuangan Anda di tahun 2007 lalu.</p>
<p>Tidak perlu waktu lama untuk melakukan evaluasi. Tapi saya yakin, evaluasi yang Anda lakukan sebentar ini yang justru akan membuat keuangan Anda tahun 2008 ini bisa menjadi lebih baik.</p>
<p>Bagaimana, sih, caranya melakukan evaluasi? Apakah Anda harus mengingat lagi berapa pengeluaran-pengeluaran Anda secara detail sejak bulan Januari lalu sampai Desember 2007 lalu? Tidak. Prinsipnya, hanya ada tiga hal paling penting yang harus Anda evaluasi selama tahun 2007 kemarin.</p>
<p><b>Pengeluaran-pengeluaran Besar Anda</b><br />
Saya tahu Anda sulit untuk mengingat kembali pengeluaran-pengeluaran kecil Anda selama tahun 2007 kemarin. Jauh lebih mudah mengingat pengeluaran-pengeluaran besar. Betul kan? Inilah yang akan kita lakukan, mengingat dan kalau perlu menuliskan kembali apa saja pengeluaran-pengeluaran besar yang Anda lakukan tahun 2007 lalu.<br />
Contohnya seperti pembelian barang elektronik, liburan ke Bali, motor, dan lain-lain. Prinsipnya, coba ingat kembali apa saja pengeluaran-pengeluaran besar yang pernah Anda lakukan. Coba renungkan, jika Anda diberi kesempatan untuk mengulang kembali,<br />
apakah Anda akan tetap membeli atau mengeluarkan uang untuk barang dan jasa yang pernah Anda lakukan?</p>
<p>Dengan demikian, di tahun 2008 ini Anda punya kesempatan untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan uang dalam jumlah besar, terutama untuk pembelian barang dan jasa yang memang butuh dana besar.</p>
<p><b>Investasi-investasi Yang Anda Lakukan</b><br />
Sekarang coba ingat kembali apa saja investasi-investasi yang sudah Anda lakukan di tahun 2007 lalu. Apakah itu investasi dalam bentuk deposito? Pembelian mata uang asing? Reksa Dana? Emas atau apa? Sekarang, setelah Anda menuliskannya, coba lihat<br />
dan renungkan kembali, apakah semua investasi yang pernah Anda lakukan tersebut memang sudah tepat atau tidak.<br />
Kalau Anda rasa tepat, syukur. Tapi kalau ada yang menurut Anda tidak tepat, seperti misalnya Anda, kok, jadi malah rugi, susah terjual lagi dan lain sebagainya, maka Anda bisa melihat apakah Anda perlu mengulangi lagi investasi tersebut di Tahun 2008 ini.  Ya, kan?</p>
<p><b>Penghasilan Anda</b><br />
Nah, hal ketiga yang harus Anda evaluasi adalah penghasilan Anda, entah jumlah angkanya, maupun sumbernya. Contoh, tahun 2007 kemarin, apakah penghasilan Anda hanya berasal dari gaji? Atau Anda punya penghasilan lagi dari berdagang? Atau mengajar misalnya? Saya yakin kalau untuk yang satu ini, Anda pasti akan dengan mudah mengingatnya. Ya, kan? Nah, setelah menuliskannya, coba lihat apakah Anda puas dengan penghasilan Anda, seperti apakah Anda sudah cukup puas dengan angkanya?</p>
<p>Atau mungkin pada jumlah sumber penghasilannya? Apakah penghasilan yang berasal hanya dari satu sumber tidak membuat Anda puas misalnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pasti akan terus ada di benak Anda selama Anda menuliskannya di atas kertas. Nah, dari evaluasi nanti Anda bisa mengambil keputusan apakah yang akan Anda lakukan dengan penghasilan Anda di Tahun 2008 ini.</p>
<p>Ibu-Bapak, mudah-mudahan tiga hal di atas tadi bisa membantu Anda dalam membuat Evaluasi Keuangan di Tahun 2007 lalu, sehingga bisa Anda bisa menapak tahun 2008 ini dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Source: <a href="http://www.perencanakeuangan.com" title="Perencanaan Keuangan untuk Anda" target="_blank">Safir Senduk-Perencana Keuangan</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=9&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enterpreneur Langit</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 18:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah Anda Sungguh   Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan &#8211; Thomas Draxe Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.
&#8220;Mmm &#8230; pengusaha dan kaya raya, sebuah dua sisi mata uang, selalu berhubungan,&#8221; pikirku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=8&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:top;" src="http://www.educationcenteronline.org/images/Entrepreneur_Training.jpg" alt="" width="233" height="350" /></p>
<p>Apakah Anda Sungguh   Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan &#8211; Thomas Draxe Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.</p>
<p>&#8220;Mmm &#8230; pengusaha dan kaya raya, sebuah dua sisi mata uang, selalu berhubungan,&#8221; pikirku. Sejak kecil impian untuk menjadi seorang pengusaha selalu terngiang. Aku masih teringat sewaktu di sekolah dasar di era 80-an, seringkali aku membawa sebuah kartu nama ayahku yang tertulis sebagai President Director di salah satu perusahaan. Sering kubawa kartu nama itu, sesekali kupamerkan kepada rekan-rekanku di sekolah. Dulu, aku begitu bangga dengan kartu nama tersebut.</p>
<p>Atau kadangkala aku buat sendiri sebuah kartu nama dari guntingan kertas karton yang kuberi logo dan warna sesuka hatiku, dan tak lupa menuliskan jabatan president director di bawah namaku dengan spidolku. Ehm &#8230; senang hatiku melihatnya, dan sering pula kutunjukan pada kedua orang tuaku, atau siapa pun yang ingin aku pamerkan. Kartu itu kerap menghiasi dompet mungilku, dan aku berharap mudah-mudahan dewasa kelak bisa menjadi pengusaha sungguhan. Mimpiku. Itu masa kecilku &#8230;</p>
<p>Ya, pengusaha. Yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, menjadi pengusaha tentulah selalu dikelilingi oleh berbagai kekayaan dan kesenangan. Mudah untuk meraup uang, kepuasan materil tercukupi, dikelilingi kemewahan dan kenyamanan. Menjadi pengusaha yang kaya menjadi impian banyak orang. Kekayaan selalu menjadi tujuan utamanya. Ya, sekali lagi, kaya telah menjadi sesembahan baru di zaman ini.</p>
<p>Sungguh mengagetkan pendapat Robert T. Kiyosaki dalam menanggapi definisi &#8220;bagaimana mencapai level kaya&#8221;. Dia mengatakan bahwa alasan kenapa banyak orang tidak bisa kaya adalah karena mereka tidak cukup atau kurang memberi kepada sesamanya. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana adalah seseorang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak, maka orang tersebut akan menjadi kaya raya. Aku pikir itu adalah prinsip yang sungguh Islami.</p>
<p>Aku teringat sebuah dialog dengan rekan seorang pengusaha yang sungguh menarik sekaligus memperkuat penjelasan di atas. Pada saat kutanya bagaimana caranya membangun bisnisnya, beliau mengatakan, &#8220;Yang terpenting dalam targetku adalah aku berbuat bisnis seperti ini bukan karena ingin memupuk kekayaan, sungguh sekali-kali tidak! Yang kuingin adalah aku punya sekumpulan pegawai layaknya kumpulan umat di bawah wilayah perusahaanku. Aku berharap dengan di bawah kepemimpinanku, tidak ada teriakan kata lapar lagi dari para pegawai maupun anak-anak mereka. Aku ingin menjadikan kantorku sebagai tempat perlindungan sekumpulan umat kecilku itu, aku sayang mereka, dan semakin sayang kepada mereka, dan juga kepada anak-anak mereka. Tidak pernah terpikir olehku berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan hal ini. Aku bina perusahaan tersebut dengan landasan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ayah. Aku berusaha keras sekuat tenagaku untuk menahkodai kapal bisnis ini untuk sampai di pantai kebahagiaan kelak secara bersama-sama. Dan selalu kulibatkan kehadiran Allah dalam setiap langkah kami. Kuingin suasana perjuangan selalu hadir, agar hati kami selalu hidup dan umatku merasa bahagia, dan aku berkeyakinan hal itu akan menjadi persembahan kami dalam meraih keberkahan dan akan menjadi bekal di akhirat kelak &#8230;! Kami yakin pasti Allah akan selalu menolong kami.&#8221;</p>
<p>Tak terasa mataku berkaca kaca dan keharuanku mengalir bersama dengan uraiannya.  Lain lagi Bob Galvin, bercerita tentang ayahnya, pendiri Motorola. Sewaktu dia mengamati deretan pekerja wanita dan dia termenung, &#8220;Mereka semua mirip dengan ibuku, mereka semua punya anak yang harus dicukupkan, rumah yang harus dirawat, dan orang-orang yang masih memerlukan mereka yang berada dibawah tanggungan mereka.&#8221; Hal itulah, ujar Galvin, yang membuat ayahnya selalu termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi agar tercipta kehidupan yang lebih baik bagi mereka karena ayahnya melihat sosok ibunya dalam diri semua pekerja itu. &#8220;Begitulah bisnis kami semuanya dimulai dengan rasa hormat yang mendalam,&#8221; katanya.</p>
<p>Bahkan salah satu sosok kaum beriman, Umar bin Abdul Azis, karena rasa belas kasih dan rasa cintanya, dia selalu memberikan upah kepada pegawainya lebih besar dari apa yang ia terima. &#8220;Allahu akbar,&#8221; gumamku, dan aku yakin bila hal ini kusampaikan kepada para pegawaiku, mereka semua akan tersenyum lebar dan berharap hal itu menjadi kenyataan setelah membaca ini.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat nabi juga telah mempraktekkan tentang bagaimana menggunakan kekayaanya. Dia seorang pengusaha yang sukses. Tetapi dia memandang kekayaannya hanyalah sebagai fasilitas untuk beramal saleh. Dia mencontohkan dalam kisahnya yang telah mensedekahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 dinar pada Rasulullah saw, kemudian dia mensedekahkan lagi hartanya sebanyak 40.000 dinar, dan kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar. Semuanya itu berlangsung dalam jangka waktu yang berdekatan. Lalu dia menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabillillah, dan setelah itu kembali menanggung 1.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. Sebagian besar harta milik Abdurrahman tersebut adalah yang dia peroleh murni dari hasil berbisnis.</p>
<p>Mereka melakukan semua itu, tidak lain karena mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai hasil akhir yang ingin dicapai, melainkan mereka menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meraih janji Tuhannya dengan mendapatkan ganjaran yang luar biasa yaitu surga-Nya.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah membeli dari orang orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.&#8221; (At Taubah:111)</p>
<p>Said Nursi, ulama dari Turki, mengomentari ayat tersebut dan berkata, &#8220;Seandainya saya memiliki seribu nyawa, dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi kejayaan Islam. Bagaimana tidak? Karena sesungguhnya saya kini sedang menunggu di alam Barzakh (alam antara kematian dan kebangkitan), kereta yang akan membawa saya ke akhirat. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan perjalanan ke dunia lain untuk bergabung bersama di tiang gantungan. Saya ingin sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat akhirat.</p>
<p>Cobalah Anda bayangkan keadaan pikiran seorang anak kampung dari sebuah dusun yang seumur hidupnya belum pernah melihat sebuah kota besar dengan berbagai kesenangan, kemewahan dan kemegahan. Maka anda akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk mencapai hari akhir itu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya, tiada kata lain saudaraku, sudah siapkah kita menjadi enterpreuner langit seperti itu?</p>
<p>source: zidni_dinan@yahoo.com<br />
Ribuan doa kupanjatkan , kupasrahkan semua usahaku kepada-MU,<br />
aku hanyalah seorang prajurit hina yang selalu mengharapkan<br />
pertolongan dan keridhoan-MU &#8230; dan Engkau telah menjawabnya<br />
dengan sangat kasih dan lembutnya &#8230; malam itu aku semakin<br />
cinta kepada-MU Ya Allah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=8&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.educationcenteronline.org/images/Entrepreneur_Training.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mendefinisikan Ulang Kesuksesan</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 23:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Hal apa yang paling diinginkan semua manusia? Jawaban hanya satu: sukses. Kesuksesan telah menjadi kebutuhan setiap insan manusia di muka bumi ini. Itulah sebabnya orang menempuh berbagai cara untuk memperoleh. Salah satunya dengan jalan pendidikan formal.Sayangnya sukses bukanlah hal yang bisa dengan mudah bisa diraih setiap orang. Orang bijak selalu berkata, tidak ada kesuksesan tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=4&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hal apa yang paling diinginkan semua manusia? Jawaban hanya satu: sukses. Kesuksesan telah menjadi kebutuhan setiap insan manusia di muka bumi ini. Itulah sebabnya orang menempuh berbagai cara untuk memperoleh. Salah satunya dengan jalan pendidikan formal.Sayangnya sukses bukanlah hal yang bisa dengan mudah bisa diraih setiap orang. Orang bijak selalu berkata, tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. There is no success without sacrifice!</p>
<p><img style="vertical-align:text-top;" src="http://safruddin.files.wordpress.com/2007/07/success.jpg?w=315&#038;h=315" alt="" width="315" height="315" /></p>
<p>Meski sukses telah menjadi kebutuhan mutlak setiap manusia toh tidak semua orang memiliki pandangan yang sama tentang arti kesuksesan. Ada yang menganggapnya sebagai kekayaan. Kelompok ini umumnya mencurahkan hidupnya untuk menumpuk harta. Mereka melihat uang sebagai simbol kesuksesan. Itulah sebabnya mereka menjadi serakah dan amat mendewakan uang. Uang menjadi oksigen yang mutlak diperlukan bagi kehidupan mereka. Sayangnya orang-orang seperti ini hidupnya hampa. Mereka umumnya cepat curiga terhadap orang lain. Amat sulit bagi mereka untuk berpikir positif terhadap orang lain. Kalau ada yang mencoba dekat, mereka lantas berpikir, &#8220;Jangan-jangan orang ini mau mengambil harta saya.&#8221;</p>
<p>Seorang Mahaguru Kebijaksanaan pernah berkata orang yang menomorsatukan harta tidak akan menemukan arti hidup yang sejati. &#8220;Sebab di mana hartanya berada, di situlah pula hatinya berada,&#8221; demikian nasihat Sang Mahaguru.</p>
<p>Saya tidak memungkiri bahwa kekayaan -khususnya uang- penting bagi hidup. Siapa sih yang tidak butuh uang? Sebuah lembaga keagamaan dan lembaga sosial pun butuh uang untuk kegiatan operasionalnya. Mana bisa kita mendirikan tempat ibadah tanpa uang yang merupakan sumbangan dari orang lain? Uang memang penting tapi uang bukan segalanya. Uang adalah sarana untuk membuat hidup kita makin berarti.</p>
<p>Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain kekayaan, ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenangan hidup. Kelompok ini tidak suka macam-macam. Sebagian bahkan cenderung pasif dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Sikap seperti ini juga merupakan sebuah pilihan dan kita tidak bisa<br />
mengatakan itu keliru.</p>
<p>Ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenaran. Mereka rela menempuh jalan panjang yang menanjak demi popularitas. Terkadang perjalanan panjang ini sangat melelahkan sehingga beberapa memilih jalan pintas dengan mempraktekkan cara-cara kurang terpuji, seperti (maaf) menjual diri. Sudah bukan rahasia lagi kalau tidak sedikit penyanyi atau bintang film yang pernah tidur dengan produsernya. Tidak semua dari mereka yang mengambil jalan ini.</p>
<p>Paham bahwa kesuksesan identik dengan ketenaran biasanya hanya terbukti kebenarannya pada tahap awal. Lambat-laun, seiring makin meningkat popularitas, banyak hal-hal tertentu terjadi yang pada akhirnya membuat seorang tokoh publik (public figure) terpaksa menolak paham ini. Misalnya dengan hilangnya privacy yang bersangkutan karena setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi masyarakat lewat pers. Terkadang saya sendiri amat iba melihat bagaimana kehidupan seorang artis &#8220;diobok-obok&#8221; secara berlebihan oleh media massa. Pihak media selalu mengatakan bahwa apa yang disajikannya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu pembaca atau penonton. Mungkin ada benarnya juga. Yang pasti, jelaslah sudah bahwa kesuksesan tidak identik dengan ketenaran.</p>
<p>Selanjutnya ada juga yang mendefiniskan kesuksesan dengan kesehatan yang prima. Terhadap definisi ini terkadang saya mengajukan pertanyaan reflektif, bukankah ada begitu banyak orang dengan kesehatan yang amat prima namun hidupnya kosong? Mereka sama sekali tidak berkarya dan berusaha menjadikan hidupnya lebih berarti.</p>
<p>Jadi, apa sih definisi sukses yang tepat? Saya tidak berpretensi menyebut diri sebagai pakar kesuksesan karena saya pun masih terus belajar dan mencari apa arti sebuah sukses sejati. Yang pasti, saya pernah membaca satu definisi tentang sukses yang tampaknya cukup menarik untuk kita simak bersama. Menurut motivator terkenal, Zig Ziglar, sukses sejati mencakup delapan bidang kehidupan, yakni: kebahagiaan, kesehatan, keuangan (kemakmuran), keamanan, kualitas persahabatan (mempunyai banyak sahabat), hubungan keluarga yang baik, pengharapan akan masa depan, dan kedamaian pikiran. Itulah sebabnya kita sering mendengar orang berkata bahwa orang kaya belum tentu sukses, namun orang yang sukses pasti kaya secara material dan spiritual.</p>
<p>Meski demikian, sukses bukanlah sebuah tujuan akhir; sukses adalah sebuah perjalanan. Success is not a destination; success is a journey! Ya, sukses adalah sebuah perjalanan! Jika kita telah berhasil meraih sebuah impian, kita toh tetap harus meneruskan perjalanan. Akhir dari perjalanan itu adalah ketika kita menutup mata dan kembali ke hadirat-Nya. Motivator dan pakar kepemimpinan, Dr. John C. Maxwell selalu menegaskan agar dalam perjalanan sukses itu kita senantiasa melakukan apa yang harus kita lakukan. Intinya, tempuhlah perjalanan sukses dengan benar dan hargailah prosesnya bukan hasil akhir. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Sumber: Mendefinisikan Ulang Kesuksesan  oleh Paulus Winarto adalah trainer, penulis buku-buku motivasi (First Step to be An Entrepreneur, Top Secrets of Success dan Reach Your Maximum Potential) dan pendiri LEAF (training center yang mengkhususkan diri pada upaya meningkatkan motivasi dan mengembangkan potensi kepemimpinan).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=4&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://safruddin.files.wordpress.com/2007/07/success.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>