<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>AkudanKalian-My Life &#187; Self Development</title>
	<atom:link href="http://akudankalian.wordpress.com/tag/self-development/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akudankalian.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2009 19:00:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='akudankalian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/10a96fcecd3ca21a75642fafcaa3a685?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>AkudanKalian-My Life &#187; Self Development</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akudankalian.wordpress.com/osd.xml" title="AkudanKalian-My Life" />
		<item>
		<title>CARA KAYA 2: Wealth Ratio Bigger Than One</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-2-wealth-ratio-bigger-than-one/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-2-wealth-ratio-bigger-than-one/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 11:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Entreupreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[INDIKATOR KAYA ADALAH WEALTH RATIO LEBIH BESAR DARIPADA 1
Dulu waktu saya masih kecil, yang disebut orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang jutaan. Karena itu ada sebutan ‘jutawan’. Sekarang gaji di atas sejuta sudah umum, bahkan sudah dirasakan kurang memadai. Sekarang orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang milyaran, atau disebut milyuner. Apakah nanti milyuner [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=41&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>INDIKATOR KAYA ADALAH WEALTH RATIO LEBIH BESAR DARIPADA 1</strong></p>
<p>Dulu waktu saya masih kecil, yang disebut orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang jutaan. Karena itu ada sebutan ‘jutawan’. Sekarang gaji di atas sejuta sudah umum, bahkan sudah dirasakan kurang memadai. Sekarang orang kaya adalah mereka yang mempunyai uang milyaran, atau disebut milyuner. Apakah nanti milyuner tak lagi disebut kaya?</p>
<p>Mengukur kekayaan dari sesuatu yang fisik tak lagi menjadi ukuran yang tepat. Mobil bagus? Bisa kredit. Rumah bagus? Kredit juga. Kartu kredit? Mahasiswa juga punya. Ponsel? Anak SD pun sekarang punya. Golf? Dibayarin temen. Jadi apa dong ukuran kaya yang lebih tepat?</p>
<p>Setelah lama mencarinya maka saat ini saya paling setuju dengan rumusan Robert Kiyosaki. Rumusan itu disebut Wealth Ratio (WR), yang dia tulis di buku Retire Young Retire Rich. Rumusannya sederhana seperti ini:</p>
<p><img src="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/WealthRatio.jpg" alt="" /></p>
<p>Menurut rumusan tersebut, seseorang baru dapat disebut kaya setelah WR &gt;= 1. Apa maksudnya?</p>
<p>Mari kita bahas secara singkat apa itu Penghasilan Pasif. Penghasilan Pasif (Passive Income) adalah penghasilan yang didapat dengan keterlibatan yang sangat-sangat minimal. Misalnya, seorang penulis mendapatkan royalti dari penjualan bukunya. Sebelumnya saat dia menulis buku maka dia bekerja dengan keras, dengan keterlibatan maksimal. Namun setelah buku tersebut terbit dan laku, maka selama 70 tahun (masa copyright buku) selanjutnya dia berhak menerima royalti tanpa harus bekerja lagi. Contoh lainnya adalah seseorang yang menyewakan kamar kos ke mahasiswa. Setiap bulan (atau tahun) dia mendapat uang sewa tanpa dia mengeluarkan tenaga lagi. Inilah contoh penghasilan pasif. Pada dasarnya semua pendapatan yang diperoleh tanpa kerja langsung dapat disebut pendapatan pasif, seperti misalnya bunga deposito, penghasilan multi-level-marketing dari aktivitas downline, uang pensiun, deviden saham, royalti lagu, pendapatan franchise, dan sebagainya.</p>
<p>Dengan demikian bila seseorang mempunyai Penghasilan Pasif setara dengan Pengeluaran, maka secara definitif dia tidak perlu lagi bekerja. Setiap bulan dia dapat mencukupi kebutuhannya tanpa bekerja. Inilah yang disebut kaya, layaknya raja-raja jaman dahulu yang tidak perlu bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.</p>
<p>Mari kita ilustrasikan konsep tersebut dengan contoh Toni dan Joni. Toni berpenghasilan 1 milyar sebulan, sedangkan Joni hanya 5 juta sebulan. Siapa lebih kaya? Kita lihat dulu pengeluarannya. Pengeluaran Toni ternyata 1 milyar 50 ribu rupiah tiap bulan. Ini berarti Toni tekor (minus) 50 ribu setiap bulan. Jelas dia sebenarnya bangkrut. Sebaliknya Joni hanya perlu pengeluaran 4,5 juta sebulan, karena gaya hidup yang sederhana. maka setiap bulan dia masih bisa menabung 500 ribu. Joni lebih kaya dibanding Toni?</p>
<p>Joni sesungguhnya belum kaya. Joni baru ‘berpotensi’ kaya. Mengapa? Mari kita bandingkan Joni dengan Roni. Penghasilan Joni sebagai karyawan perusahaan besar adalah 5 juta sebulan, sedangkan penghasilan Roni yang didapat dari kontrakan kamar untuk para buruh hanyalah 2 juta sebulan. Roni pengangguran, dan kamar-kamar kontrakan itu merupakan warisan dari orang tuanya. Pengeluaran Roni hanya 2 juta sebulan. Siapa lebih kaya?</p>
<p>Jawab: Roni. Mengapa? Karena penghasilan Roni adalah penghasilan pasif (tanpa kerja langsung) sedangkan penghasilan Joni adalah aktif (dengan kerja langsung). Jadi Toni dan Joni berpenghasilan aktif, sedangkan Roni berpenghasilan pasif. Di antara mereka bertiga Roni si pengangguranlah yang paling kaya. Mari kita analisis dengan rumus Rasio Kekayaan (Wealth ratio / WR)</p>
<p>Toni</p>
<p>Penghasilan 		: 1.000.000.000</p>
<p>Pengeluaran 		: 1.000.050.000</p>
<p>Saldo 			: &#8211; 50.000</p>
<p>Potensi makin kaya 	: negatif karena tekor setiap bulan</p>
<p>Penghasilan pasif 	: 0</p>
<p>WR Toni = 0/1.000.050.000 = 0</p>
<p>Joni</p>
<p>Penghasilan 		: 5.000.000</p>
<p>Pengeluaran 		: 4.500.000</p>
<p>Saldo 			: + 500.000</p>
<p>Potensi makin kaya 	: Positif karena bisa nabung setiap Bulan</p>
<p>Penghasilan pasif 	: 0</p>
<p>WR Joni = 0/4.500.000 = 0</p>
<p>Roni</p>
<p>Penghasilan 		: 2.000.000</p>
<p>Pengeluaran 		: 2.000.000</p>
<p>Saldo 			: 0</p>
<p>Potensi makin kaya 	: nol karena tidak ada saldo</p>
<p>Penghasilan pasif 	: 2.000.000</p>
<p>WR Roni = 2.000.000/2.000.000 = 1</p>
<p>Dapat kita lihat bahwa nilai penghasilan yang besar tidak akan menolong seseorang selama pengeluarannya tidak terkendali. Ketika seseorang mampu menabung maka dia berpotensi menjadi kaya. Namun semua itu belum menjadi penting hingga tabungan tersebut berhasil diubah menjadi penghasilan pasif (passive income).</p>
<p>Dengan demikian Roni sudah kaya, namun potensi lebih kaya tidak ada karena tidak punya saldo. Walau begitu penghasilan pasif tidak harus menggunakan modal tabungan, ada yang bisa diciptakan sendiri misalnya membuat lagu dan mendapat royalti. Kondisi Roni dapat berubah ketika pengeluaran bulanan dia meningkat (karena menikah, punya anak, sakit, dsb). Bila pengeluaran menjadi lebih tinggi dari penghasilan pasif maka otomatis Roni berubah status dari kaya (WR &gt;= 1) menjadi miskin (WR &lt; 1).</p>
<p>Joni saat ini belum kaya (WR = 0), namun bila Joni mampu mengubah modal tabungannya menjadi penghasilan pasif, maka dia bisa menjadi kaya. Apabila tabungan yang Joni kumpulkan ternyata gagal diubah ke penghasilan pasif (misalnya kemudian habis hanya untuk membeli barang konsumsi), maka Joni kembali tidak berpeluang kaya.</p>
<p>Jadi ukuran kaya adalah WR seseorang. Kekayaan seseorang terus berubah (naik-turun) bergantung kedisiplinan dia dalam mengusahakan Penghasilan pasif dan mengelola Pengeluaran. Ukuran WR ini sangat penting dalam proses menuju kaya, karena dengan terus memantau ukuran ini kita punya panduan yang jelas untuk bertindak. Saya sendiri mendapat banyak manfaat dengan panduan WR ini. Suatu saat WR saya mencapai 0,4 lalu di saat lain karena kesalahan investasi (baca: pembelajaran, he..he..) kembali turun menjadi 0,15 (ngomong-ngomong, bagaimana WR Anda, masih nol ?). Jelas saya belum kaya, tapi saya yakin -selalu optimis- bahwa menjadi kaya itu sangat realistis dan dapat dilakukan oleh semua orang, tak peduli terlahir kaya atau miskin. Sejarah sudah membuktikan hal itu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=41&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-2-wealth-ratio-bigger-than-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/WealthRatio.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>CARA KAYA 1: Kuda dan Penunggang</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-1-kuda-dan-penunggang/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-1-kuda-dan-penunggang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 11:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Entreupreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[
Cara menjadi kaya yang pertama adalah menerima kebenaran. Terkadang kebenaran sungguh menyakitkan. Terima saja. Bukan kebenaran yang perlu kita ubah (apalagi dihindari), namun kita yang harus bersikap cerdik dan mengambil tanggung jawab.
Setelah mencermati buku Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki yang terkenal itu, ada satu bagian filososfis yang menarik untuk diingat. Saya membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=40&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/dsc_0854.jpg" alt="" /></p>
<p>Cara menjadi kaya yang pertama adalah menerima kebenaran. Terkadang kebenaran sungguh menyakitkan. Terima saja. Bukan kebenaran yang perlu kita ubah (apalagi dihindari), namun kita yang harus bersikap cerdik dan mengambil tanggung jawab.</p>
<p>Setelah mencermati buku Rich Dad Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki yang terkenal itu, ada satu bagian filososfis yang menarik untuk diingat. Saya membuat gambar kartun tentang hal ini dan memasangnya di dinding ruang kerja agar selalu ingat. Kartun itu bergambar orang naik kuda (tepatnya naik seekor keledai), orang tersebut membawa tongkat yang di ujungnya ditalikan sebuah wortel, lalu diayun-ayunkan di depan kuda. Dengan demikian kuda akan berjalan maju berusaha meraih wortel, dan penunggang dapat mengarahkannya kemana dia ingin pergi.</p>
<p>Apa beda kuda dengan penunggang? Setelah waktu terus berjalan, penunggang akan sampai di tempat tujuan, sedangkan kuda hanya akan mendapat…wortel. Ini gambaran yang sangat sarkastis, tapi begitulah kebenaran memang sering menyakitkan. Terima saja.</p>
<p>Apa maksud gambar tersebut. Bila Anda seorang karyawan, maka setelah Anda bekerja sangat keras, di akhir bulan pemilik perusahaan akan mendapati sistem usahanya menjadi semakin bagus, dan mungkin laba makin naik. Karyawan hanya mendapat gaji. Setelah 20 tahun berjalan, pemilik (penunggang) akan mendapatkan perusahaan (sistem bisnis) dan kemudian pensiun dengan tenang, sementara karyawan (kuda) akan mendapat wortel sedikit lebih banyak (naik gaji), yang mungkin sudah dia habiskan di sepanjang jalan. Pemilik mendapatkan akumulasi dari usahanya (sampai di tempat tujuan), karyawan tidak mendapatkan akumulasi dari usahanya (hanya dapat wortel).</p>
<p>Pedih? Ya. Terima saja. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi dan bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Jangan salahkan penunggang Anda, karena dia sebenarnya juga adalah ‘kuda’ dari sistem yang lebih besar lagi! Kita semua ini adalah “kuda di atas kuda, penunggang di bawah penunggang”. Artinya secara bertingkat kita adalah kuda dari sistem yang lebih besar sekaligus penunggang dari sistem yang lebih kecil. Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan diri sendiri kalau masih terus menerima menjadi kuda.</p>
<p>Tunggu sebentar, penunggang dan kuda belum tentu berwujud manusia. Penunggang pada tingkat makro salah satunya adalah ‘negara’. Negara menunggangi rakyatnya dengan mengambil pajak. Namun negara pun hanyalah kuda bagi para penunggang sesungguhnya yaitu para elite. Sebaliknya pada tingkat mikro ada kuda berbentuk mesin-mesin, rumah sewa, lahan kebun, air sumber listrik, dan sumber daya alam. Di setiap tingkatan ada penunggang dan kuda.</p>
<p>Mari bersedih, terima kebenaran bahwa kita ini kuda, lalu mari kita ambil tanggung jawab. Jadi, setelah kita sadar bahwa kita ini hanyalah kuda yang diperkuda, maka yang sebaiknya dilakukan adalah: mengambil wortel, memakannya hanya sebagian, lalu menggunakan sisanya untuk mengendalikan kuda lain. Artinya, di saat lain, si kuda berubah menjadi penunggang!</p>
<p>Ini berarti setelah Anda lelah bekerja sebulan penuh, sudah saatnya memikirkan kemana sebagian uang (wortel) gaji Anda akan diinvestasikan. Anda bisa gunakan uang itu untuk mempekerjakan orang lain, atau mempekerjakan mesin yang mengantar Anda menuju tujuan. Mereka yang hanya memakan habis gajinya ibarat kuda yang memakan habis jatah wortelnya. Bila terus demikian maka dia akan menjadi kuda seumur hidupnya! Inilah pola konsumtif yang dilakukan sebagian besar orang. Gajinya hanya habis untuk kebutuhan hidup dan bersenang-senang. Di usia senja, baru dia sadar bahwa dia tidak memiliki apapun. Sangat tragis.</p>
<p>Miskin saat muda hanyalah ketidaknyamanan.<br />
Miskin saat tua adalah tragedi.<br />
Coba sekarang Anda renungkan, apakah Anda masih sekedar kuda, atau sudah mulai menjadi penunggang? Atau lebih tragis lagi -celetuk Intan, rekan saya- hanya menjadi wortelnya?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=40&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/05/29/cara-kaya-1-kuda-dan-penunggang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i260.photobucket.com/albums/ii4/pojokstudio284/dsc_0854.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA EVALUASI KEUANGAN</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 18:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, tiba juga kita di tahun 2008. Tahun yang penuh dengan tantangan dan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Nah, di awal tahun 2008 ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak menoleh ke belakang. Tujuannya untuk mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan pada keuangan Anda di tahun 2007 lalu.
Tidak perlu waktu lama untuk melakukan evaluasi. Tapi saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=9&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Akhirnya, tiba juga kita di tahun 2008. Tahun yang penuh dengan tantangan dan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Nah, di awal tahun 2008 ini, saya ingin mengajak Anda untuk sejenak menoleh ke belakang. Tujuannya untuk mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan pada keuangan Anda di tahun 2007 lalu.</p>
<p>Tidak perlu waktu lama untuk melakukan evaluasi. Tapi saya yakin, evaluasi yang Anda lakukan sebentar ini yang justru akan membuat keuangan Anda tahun 2008 ini bisa menjadi lebih baik.</p>
<p>Bagaimana, sih, caranya melakukan evaluasi? Apakah Anda harus mengingat lagi berapa pengeluaran-pengeluaran Anda secara detail sejak bulan Januari lalu sampai Desember 2007 lalu? Tidak. Prinsipnya, hanya ada tiga hal paling penting yang harus Anda evaluasi selama tahun 2007 kemarin.</p>
<p><b>Pengeluaran-pengeluaran Besar Anda</b><br />
Saya tahu Anda sulit untuk mengingat kembali pengeluaran-pengeluaran kecil Anda selama tahun 2007 kemarin. Jauh lebih mudah mengingat pengeluaran-pengeluaran besar. Betul kan? Inilah yang akan kita lakukan, mengingat dan kalau perlu menuliskan kembali apa saja pengeluaran-pengeluaran besar yang Anda lakukan tahun 2007 lalu.<br />
Contohnya seperti pembelian barang elektronik, liburan ke Bali, motor, dan lain-lain. Prinsipnya, coba ingat kembali apa saja pengeluaran-pengeluaran besar yang pernah Anda lakukan. Coba renungkan, jika Anda diberi kesempatan untuk mengulang kembali,<br />
apakah Anda akan tetap membeli atau mengeluarkan uang untuk barang dan jasa yang pernah Anda lakukan?</p>
<p>Dengan demikian, di tahun 2008 ini Anda punya kesempatan untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan uang dalam jumlah besar, terutama untuk pembelian barang dan jasa yang memang butuh dana besar.</p>
<p><b>Investasi-investasi Yang Anda Lakukan</b><br />
Sekarang coba ingat kembali apa saja investasi-investasi yang sudah Anda lakukan di tahun 2007 lalu. Apakah itu investasi dalam bentuk deposito? Pembelian mata uang asing? Reksa Dana? Emas atau apa? Sekarang, setelah Anda menuliskannya, coba lihat<br />
dan renungkan kembali, apakah semua investasi yang pernah Anda lakukan tersebut memang sudah tepat atau tidak.<br />
Kalau Anda rasa tepat, syukur. Tapi kalau ada yang menurut Anda tidak tepat, seperti misalnya Anda, kok, jadi malah rugi, susah terjual lagi dan lain sebagainya, maka Anda bisa melihat apakah Anda perlu mengulangi lagi investasi tersebut di Tahun 2008 ini.  Ya, kan?</p>
<p><b>Penghasilan Anda</b><br />
Nah, hal ketiga yang harus Anda evaluasi adalah penghasilan Anda, entah jumlah angkanya, maupun sumbernya. Contoh, tahun 2007 kemarin, apakah penghasilan Anda hanya berasal dari gaji? Atau Anda punya penghasilan lagi dari berdagang? Atau mengajar misalnya? Saya yakin kalau untuk yang satu ini, Anda pasti akan dengan mudah mengingatnya. Ya, kan? Nah, setelah menuliskannya, coba lihat apakah Anda puas dengan penghasilan Anda, seperti apakah Anda sudah cukup puas dengan angkanya?</p>
<p>Atau mungkin pada jumlah sumber penghasilannya? Apakah penghasilan yang berasal hanya dari satu sumber tidak membuat Anda puas misalnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pasti akan terus ada di benak Anda selama Anda menuliskannya di atas kertas. Nah, dari evaluasi nanti Anda bisa mengambil keputusan apakah yang akan Anda lakukan dengan penghasilan Anda di Tahun 2008 ini.</p>
<p>Ibu-Bapak, mudah-mudahan tiga hal di atas tadi bisa membantu Anda dalam membuat Evaluasi Keuangan di Tahun 2007 lalu, sehingga bisa Anda bisa menapak tahun 2008 ini dengan lebih baik lagi.</p>
<p>Source: <a href="http://www.perencanakeuangan.com" title="Perencanaan Keuangan untuk Anda" target="_blank">Safir Senduk-Perencana Keuangan</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=9&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/pentingnya-evaluasi-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enterpreneur Langit</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 18:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah Anda Sungguh   Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan &#8211; Thomas Draxe Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.
&#8220;Mmm &#8230; pengusaha dan kaya raya, sebuah dua sisi mata uang, selalu berhubungan,&#8221; pikirku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=8&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:top;" src="http://www.educationcenteronline.org/images/Entrepreneur_Training.jpg" alt="" width="233" height="350" /></p>
<p>Apakah Anda Sungguh   Ingin Menjadi Pengusaha dan Kaya Raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan &#8211; Thomas Draxe Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.</p>
<p>&#8220;Mmm &#8230; pengusaha dan kaya raya, sebuah dua sisi mata uang, selalu berhubungan,&#8221; pikirku. Sejak kecil impian untuk menjadi seorang pengusaha selalu terngiang. Aku masih teringat sewaktu di sekolah dasar di era 80-an, seringkali aku membawa sebuah kartu nama ayahku yang tertulis sebagai President Director di salah satu perusahaan. Sering kubawa kartu nama itu, sesekali kupamerkan kepada rekan-rekanku di sekolah. Dulu, aku begitu bangga dengan kartu nama tersebut.</p>
<p>Atau kadangkala aku buat sendiri sebuah kartu nama dari guntingan kertas karton yang kuberi logo dan warna sesuka hatiku, dan tak lupa menuliskan jabatan president director di bawah namaku dengan spidolku. Ehm &#8230; senang hatiku melihatnya, dan sering pula kutunjukan pada kedua orang tuaku, atau siapa pun yang ingin aku pamerkan. Kartu itu kerap menghiasi dompet mungilku, dan aku berharap mudah-mudahan dewasa kelak bisa menjadi pengusaha sungguhan. Mimpiku. Itu masa kecilku &#8230;</p>
<p>Ya, pengusaha. Yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, menjadi pengusaha tentulah selalu dikelilingi oleh berbagai kekayaan dan kesenangan. Mudah untuk meraup uang, kepuasan materil tercukupi, dikelilingi kemewahan dan kenyamanan. Menjadi pengusaha yang kaya menjadi impian banyak orang. Kekayaan selalu menjadi tujuan utamanya. Ya, sekali lagi, kaya telah menjadi sesembahan baru di zaman ini.</p>
<p>Sungguh mengagetkan pendapat Robert T. Kiyosaki dalam menanggapi definisi &#8220;bagaimana mencapai level kaya&#8221;. Dia mengatakan bahwa alasan kenapa banyak orang tidak bisa kaya adalah karena mereka tidak cukup atau kurang memberi kepada sesamanya. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana adalah seseorang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak, maka orang tersebut akan menjadi kaya raya. Aku pikir itu adalah prinsip yang sungguh Islami.</p>
<p>Aku teringat sebuah dialog dengan rekan seorang pengusaha yang sungguh menarik sekaligus memperkuat penjelasan di atas. Pada saat kutanya bagaimana caranya membangun bisnisnya, beliau mengatakan, &#8220;Yang terpenting dalam targetku adalah aku berbuat bisnis seperti ini bukan karena ingin memupuk kekayaan, sungguh sekali-kali tidak! Yang kuingin adalah aku punya sekumpulan pegawai layaknya kumpulan umat di bawah wilayah perusahaanku. Aku berharap dengan di bawah kepemimpinanku, tidak ada teriakan kata lapar lagi dari para pegawai maupun anak-anak mereka. Aku ingin menjadikan kantorku sebagai tempat perlindungan sekumpulan umat kecilku itu, aku sayang mereka, dan semakin sayang kepada mereka, dan juga kepada anak-anak mereka. Tidak pernah terpikir olehku berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan hal ini. Aku bina perusahaan tersebut dengan landasan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ayah. Aku berusaha keras sekuat tenagaku untuk menahkodai kapal bisnis ini untuk sampai di pantai kebahagiaan kelak secara bersama-sama. Dan selalu kulibatkan kehadiran Allah dalam setiap langkah kami. Kuingin suasana perjuangan selalu hadir, agar hati kami selalu hidup dan umatku merasa bahagia, dan aku berkeyakinan hal itu akan menjadi persembahan kami dalam meraih keberkahan dan akan menjadi bekal di akhirat kelak &#8230;! Kami yakin pasti Allah akan selalu menolong kami.&#8221;</p>
<p>Tak terasa mataku berkaca kaca dan keharuanku mengalir bersama dengan uraiannya.  Lain lagi Bob Galvin, bercerita tentang ayahnya, pendiri Motorola. Sewaktu dia mengamati deretan pekerja wanita dan dia termenung, &#8220;Mereka semua mirip dengan ibuku, mereka semua punya anak yang harus dicukupkan, rumah yang harus dirawat, dan orang-orang yang masih memerlukan mereka yang berada dibawah tanggungan mereka.&#8221; Hal itulah, ujar Galvin, yang membuat ayahnya selalu termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi agar tercipta kehidupan yang lebih baik bagi mereka karena ayahnya melihat sosok ibunya dalam diri semua pekerja itu. &#8220;Begitulah bisnis kami semuanya dimulai dengan rasa hormat yang mendalam,&#8221; katanya.</p>
<p>Bahkan salah satu sosok kaum beriman, Umar bin Abdul Azis, karena rasa belas kasih dan rasa cintanya, dia selalu memberikan upah kepada pegawainya lebih besar dari apa yang ia terima. &#8220;Allahu akbar,&#8221; gumamku, dan aku yakin bila hal ini kusampaikan kepada para pegawaiku, mereka semua akan tersenyum lebar dan berharap hal itu menjadi kenyataan setelah membaca ini.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat nabi juga telah mempraktekkan tentang bagaimana menggunakan kekayaanya. Dia seorang pengusaha yang sukses. Tetapi dia memandang kekayaannya hanyalah sebagai fasilitas untuk beramal saleh. Dia mencontohkan dalam kisahnya yang telah mensedekahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 dinar pada Rasulullah saw, kemudian dia mensedekahkan lagi hartanya sebanyak 40.000 dinar, dan kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar. Semuanya itu berlangsung dalam jangka waktu yang berdekatan. Lalu dia menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabillillah, dan setelah itu kembali menanggung 1.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. Sebagian besar harta milik Abdurrahman tersebut adalah yang dia peroleh murni dari hasil berbisnis.</p>
<p>Mereka melakukan semua itu, tidak lain karena mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai hasil akhir yang ingin dicapai, melainkan mereka menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meraih janji Tuhannya dengan mendapatkan ganjaran yang luar biasa yaitu surga-Nya.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah membeli dari orang orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.&#8221; (At Taubah:111)</p>
<p>Said Nursi, ulama dari Turki, mengomentari ayat tersebut dan berkata, &#8220;Seandainya saya memiliki seribu nyawa, dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi kejayaan Islam. Bagaimana tidak? Karena sesungguhnya saya kini sedang menunggu di alam Barzakh (alam antara kematian dan kebangkitan), kereta yang akan membawa saya ke akhirat. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan perjalanan ke dunia lain untuk bergabung bersama di tiang gantungan. Saya ingin sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat akhirat.</p>
<p>Cobalah Anda bayangkan keadaan pikiran seorang anak kampung dari sebuah dusun yang seumur hidupnya belum pernah melihat sebuah kota besar dengan berbagai kesenangan, kemewahan dan kemegahan. Maka anda akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk mencapai hari akhir itu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya, tiada kata lain saudaraku, sudah siapkah kita menjadi enterpreuner langit seperti itu?</p>
<p>source: zidni_dinan@yahoo.com<br />
Ribuan doa kupanjatkan , kupasrahkan semua usahaku kepada-MU,<br />
aku hanyalah seorang prajurit hina yang selalu mengharapkan<br />
pertolongan dan keridhoan-MU &#8230; dan Engkau telah menjawabnya<br />
dengan sangat kasih dan lembutnya &#8230; malam itu aku semakin<br />
cinta kepada-MU Ya Allah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=8&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/23/enterpreneur-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.educationcenteronline.org/images/Entrepreneur_Training.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mendefinisikan Ulang Kesuksesan</title>
		<link>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/</link>
		<comments>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 23:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nadhare</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[Self Development]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akudankalian.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Hal apa yang paling diinginkan semua manusia? Jawaban hanya satu: sukses. Kesuksesan telah menjadi kebutuhan setiap insan manusia di muka bumi ini. Itulah sebabnya orang menempuh berbagai cara untuk memperoleh. Salah satunya dengan jalan pendidikan formal.Sayangnya sukses bukanlah hal yang bisa dengan mudah bisa diraih setiap orang. Orang bijak selalu berkata, tidak ada kesuksesan tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=4&subd=akudankalian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hal apa yang paling diinginkan semua manusia? Jawaban hanya satu: sukses. Kesuksesan telah menjadi kebutuhan setiap insan manusia di muka bumi ini. Itulah sebabnya orang menempuh berbagai cara untuk memperoleh. Salah satunya dengan jalan pendidikan formal.Sayangnya sukses bukanlah hal yang bisa dengan mudah bisa diraih setiap orang. Orang bijak selalu berkata, tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. There is no success without sacrifice!</p>
<p><img style="vertical-align:text-top;" src="http://safruddin.files.wordpress.com/2007/07/success.jpg?w=315&#038;h=315" alt="" width="315" height="315" /></p>
<p>Meski sukses telah menjadi kebutuhan mutlak setiap manusia toh tidak semua orang memiliki pandangan yang sama tentang arti kesuksesan. Ada yang menganggapnya sebagai kekayaan. Kelompok ini umumnya mencurahkan hidupnya untuk menumpuk harta. Mereka melihat uang sebagai simbol kesuksesan. Itulah sebabnya mereka menjadi serakah dan amat mendewakan uang. Uang menjadi oksigen yang mutlak diperlukan bagi kehidupan mereka. Sayangnya orang-orang seperti ini hidupnya hampa. Mereka umumnya cepat curiga terhadap orang lain. Amat sulit bagi mereka untuk berpikir positif terhadap orang lain. Kalau ada yang mencoba dekat, mereka lantas berpikir, &#8220;Jangan-jangan orang ini mau mengambil harta saya.&#8221;</p>
<p>Seorang Mahaguru Kebijaksanaan pernah berkata orang yang menomorsatukan harta tidak akan menemukan arti hidup yang sejati. &#8220;Sebab di mana hartanya berada, di situlah pula hatinya berada,&#8221; demikian nasihat Sang Mahaguru.</p>
<p>Saya tidak memungkiri bahwa kekayaan -khususnya uang- penting bagi hidup. Siapa sih yang tidak butuh uang? Sebuah lembaga keagamaan dan lembaga sosial pun butuh uang untuk kegiatan operasionalnya. Mana bisa kita mendirikan tempat ibadah tanpa uang yang merupakan sumbangan dari orang lain? Uang memang penting tapi uang bukan segalanya. Uang adalah sarana untuk membuat hidup kita makin berarti.</p>
<p>Baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain kekayaan, ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenangan hidup. Kelompok ini tidak suka macam-macam. Sebagian bahkan cenderung pasif dan menjauhkan diri dari kehidupan masyarakat. Sikap seperti ini juga merupakan sebuah pilihan dan kita tidak bisa<br />
mengatakan itu keliru.</p>
<p>Ada juga orang yang mengidentikkan kesuksesan dengan ketenaran. Mereka rela menempuh jalan panjang yang menanjak demi popularitas. Terkadang perjalanan panjang ini sangat melelahkan sehingga beberapa memilih jalan pintas dengan mempraktekkan cara-cara kurang terpuji, seperti (maaf) menjual diri. Sudah bukan rahasia lagi kalau tidak sedikit penyanyi atau bintang film yang pernah tidur dengan produsernya. Tidak semua dari mereka yang mengambil jalan ini.</p>
<p>Paham bahwa kesuksesan identik dengan ketenaran biasanya hanya terbukti kebenarannya pada tahap awal. Lambat-laun, seiring makin meningkat popularitas, banyak hal-hal tertentu terjadi yang pada akhirnya membuat seorang tokoh publik (public figure) terpaksa menolak paham ini. Misalnya dengan hilangnya privacy yang bersangkutan karena setiap gerak-geriknya senantiasa diawasi masyarakat lewat pers. Terkadang saya sendiri amat iba melihat bagaimana kehidupan seorang artis &#8220;diobok-obok&#8221; secara berlebihan oleh media massa. Pihak media selalu mengatakan bahwa apa yang disajikannya adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu pembaca atau penonton. Mungkin ada benarnya juga. Yang pasti, jelaslah sudah bahwa kesuksesan tidak identik dengan ketenaran.</p>
<p>Selanjutnya ada juga yang mendefiniskan kesuksesan dengan kesehatan yang prima. Terhadap definisi ini terkadang saya mengajukan pertanyaan reflektif, bukankah ada begitu banyak orang dengan kesehatan yang amat prima namun hidupnya kosong? Mereka sama sekali tidak berkarya dan berusaha menjadikan hidupnya lebih berarti.</p>
<p>Jadi, apa sih definisi sukses yang tepat? Saya tidak berpretensi menyebut diri sebagai pakar kesuksesan karena saya pun masih terus belajar dan mencari apa arti sebuah sukses sejati. Yang pasti, saya pernah membaca satu definisi tentang sukses yang tampaknya cukup menarik untuk kita simak bersama. Menurut motivator terkenal, Zig Ziglar, sukses sejati mencakup delapan bidang kehidupan, yakni: kebahagiaan, kesehatan, keuangan (kemakmuran), keamanan, kualitas persahabatan (mempunyai banyak sahabat), hubungan keluarga yang baik, pengharapan akan masa depan, dan kedamaian pikiran. Itulah sebabnya kita sering mendengar orang berkata bahwa orang kaya belum tentu sukses, namun orang yang sukses pasti kaya secara material dan spiritual.</p>
<p>Meski demikian, sukses bukanlah sebuah tujuan akhir; sukses adalah sebuah perjalanan. Success is not a destination; success is a journey! Ya, sukses adalah sebuah perjalanan! Jika kita telah berhasil meraih sebuah impian, kita toh tetap harus meneruskan perjalanan. Akhir dari perjalanan itu adalah ketika kita menutup mata dan kembali ke hadirat-Nya. Motivator dan pakar kepemimpinan, Dr. John C. Maxwell selalu menegaskan agar dalam perjalanan sukses itu kita senantiasa melakukan apa yang harus kita lakukan. Intinya, tempuhlah perjalanan sukses dengan benar dan hargailah prosesnya bukan hasil akhir. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Sumber: Mendefinisikan Ulang Kesuksesan  oleh Paulus Winarto adalah trainer, penulis buku-buku motivasi (First Step to be An Entrepreneur, Top Secrets of Success dan Reach Your Maximum Potential) dan pendiri LEAF (training center yang mengkhususkan diri pada upaya meningkatkan motivasi dan mengembangkan potensi kepemimpinan).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akudankalian.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akudankalian.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akudankalian.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akudankalian.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akudankalian.wordpress.com&blog=3186164&post=4&subd=akudankalian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akudankalian.wordpress.com/2008/03/18/mendefinisikan-ulang-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cc7fdc54556aa084c46c75867c7116b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nadhare</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://safruddin.files.wordpress.com/2007/07/success.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>